Pers mahasiswa memiliki peran penting dalam kerja jurnalistik, namun di tengah peran tersebut masih ditemukan berbagai bentuk ancaman dan kekerasan yang berulang. Berdasarkan kondisi itu, Bandung Bergerak mengadakan diskusi dan peluncuran zine di Perpustakaan Bunga di Tembok, Jumat (4/9/2026). Kegiatan ini menghadirkan ruang bagi berbagai pihak untuk melihat kembali kondisi pers mahasiswa dan keberlangsungannya dalam menjalankan kerja jurnalistik. 

Peluncuran zine menjadi bagian dari diskusi mengenai pendataan kekerasan terhadap pers mahasiswa. Tofan Aditya dari Tim Bandung Bergerak menjelaskan, “Kami melihat persma itu sebagai tulang punggung untuk kerja-kerja jurnalistik kritis hari ini dan yang akan datang. Kondisi media pada umumnya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Potensi besar ada di teman-teman mahasiswa karena dari sejarahnya, mahasiswa banyak meliput isu-isu kritis.” Posisi tersebut juga membuat pers mahasiswa rentan menghadapi ancaman dan represi. “Dari data 2013 sampai 2023, kasus kekerasan ternyata banyak dan belum selesai. Ketika represi terus berulang, pertanyaan besarnya: persma bisa melakukan apa saja? [Selain mendata] Kami mencari pola kasus yang sering terjadi dan membuatkan buku saku advokasi sebagai tindak lanjutnya, ”  sambungnya.

Dari pendataan tersebut terlihat adanya perubahan bentuk kekerasan yang dialami pers mahasiswa. Rentang waktu 2013 hingga 2023, kekerasan verbal menjadi bentuk yang dominan. Sementara itu, pada periode 2024 hingga 2026, permintaan pencabutan berita menjadi bentuk kekerasan yang paling banyak ditemukan. Tofan mengatakan, “Kalau dari pola pelakunya, dominannya tetap sama, yaitu pihak kampus.” Temuan ini menjadi bagian dari persoalan yang dibahas dalam kegiatan tersebut. 

Melalui zine, Bandung Bergerak berupaya memperluas pembahasan mengenai kondisi dan kerja pers mahasiswa. “Tujuannya ingin menunjukkan ke teman-teman persma, kalau kita punya basis artikel yang kuat, pemahaman regulasi baik, dan karya yang memenuhi kode etik serta cover both sides, celah untuk represi jadi semakin mengecil,” tutur Tofan. Ia menambahkan, “Semangat ini yang ingin disebarkan lewat karya dari 6 LPM. Zine ini nantinya akan dibagikan ke teman-teman LPM dan beberapa titik literasi di Bandung.”

Selain membuka data kekerasan, diskusi tersebut juga mendorong perintisan jaringan pengamanan bagi pers mahasiswa di Bandung Raya. Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandung, Iqbal T. Lazuardi, mengatakan, “Pers mahasiswa itu menjadi entitas di ekosistem pers yang sangat rentan mendapatkan intimidasi, perlindungan yang minim, dan masalah lainnya.” Berangkat dari kondisi tersebut, Bandung Bergerak bersama AJI Bandung, Amnesty International, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandung, dan Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung Raya (FKPMB) berinisiatif membangun jejaring yang dapat mendukung keamanan pers mahasiswa guna menjalankan kerja jurnalistik dengan lebih aman dan maksimal.

Iqbal juga menyatakan bahwa dalam membangun jaringan pengamanan bagi pers mahasiswa, terdapat dua upaya yang dilakukan. “Upaya yang sudah kita lakukan pertama adalah membuat dua buku saku, yaitu panduan liputan aman dan panduan kerja persma. Setidaknya, kedua panduan tersebut dapat menjadi pegangan bagi teman-teman dalam menjalankan tugas jurnalistik. Kedua, kita perlu membangun simpul antarkomunitas, organisasi, dan CSO agar dapat memberikan dukungan kepada persma, mulai dari perlindungan hukum dan advokasi hingga membantu menghasilkan karya-karya yang lebih berkualitas,” ujarnya. Ia juga berharap pihak kampus dapat terlibat dalam penguatan pers mahasiswa. “Banyak pihak kampus yang menganggap persma harusnya berlaku seperti humas kampus, padahal prinsipnya tidak seperti itu. Jadi kita harapkan pihak kampus bisa memiliki pemahaman yang sama,” kata Iqbal. 

Pentingnya jaringan pengamanan juga dirasakan oleh Zia, peserta diskusi dari Itenas. Setelah mengikuti diskusi, ia menilai pers mahasiswa masih berada dalam kondisi rentan ketika menghadapi intimidasi. Ia mempertanyakan kondisi ketika pihak yang seharusnya menjadi pelindung justru menjadi pihak yang melakukan kekerasan terhadap pers mahasiswa. “Aku juga ngerasa walaupun ada jaringan pelindung, ini tetap rentan. Tadi beberapa mahasiswa cerita kalau mereka dapat intimidasi dari pihak kemahasiswaan kampus, yang mana itu aneh banget,” ujarnya.

Diskusi dan peluncuran zine tersebut menjadi ruang untuk mendorong penguatan pers mahasiswa melalui karya dan jejaring antarkomunitas. Iqbal berharap pers mahasiswa di Bandung Raya tetap menjalankan perannya dalam menghasilkan karya yang berdampak. “Pertama, harapannya teman-teman pers mahasiswa di Bandung Raya tetap memanfaatkan perannya untuk membuat karya yang penting dan berdampak bagi komunitas kampus maupun masyarakat luas. Kedua, kita berharap teman-teman persma saling terhubung satu sama lain, kita sudah punya wadah FKPMB serta terhubung dengan jejaring yang lebih luas di Bandung, seperti AJI, LBH, dan komunitas-komunitas lainnya. Solidaritas yang kuat itulah yang bakal menguatkan kita,” ujarnya.